Author : Jeon Eun Gi
Title : Dead Leaves
Cast
: Min Yoongi (BTS), Kim Taehyung (BTS), You (Y/N), other cast.
Kamu
adalah seorang murid kelas 2 di sekolah menengah yang cukup terkenal di Korea
akan kenakalan murid-muridnya. Bukan hanya murid laki-laki saja yang terkenal dengan
kenakalannya tetapi murid perempuan pun banyak. Kamu bukanlah salah satu dari
mereka, kamu hanyalah murid biasa yang tak ingin memiliki masalah dengan
sekolah, seperti murid-murid yang lainnya. Tak banyak murid yang sepertimu
pendiam, berprestasi, dan tak memperdulikan sebuah ketenaran atau apapun karena
menurutmu itu hanyalah hal yang tak berguna. Dan bukan berarti kamu adalah
orang yang mudah dipengaruhi atau dibully.
Jam
pertama kali ini adalah jam kosong karena Lee-saem tidak hadir karena sakit.
Setelah mendapat kabar tersebut kelas menjadi ribut dan berisik tak terkendali.
Kamu hanya duduk ditempatmu dengan earphone yang baru saja kau pasangkan di
telinga-mu dan mengalun sebuah music kesukaanmu. Karena walau Lee-saem tak hadir, ia tetap
memberikan tugas kepada muridnya. Kamu mengerjakan tugas itu untuk mengisi
waktu kosongmu itu.
Saat
kau sedang mengerjakan tugasmu ada sebuah bola kertas yang terlempar keatas
bukumu. Awalnya kamu ingin membuangnya tapi kamu melihat sebuah tulisan di
dalamnya.
Temui aku di
rooftop setelah pulang sekolah.
Kamu mengedarkan
pandangamu pada ruangan kelas tapi semuanya sibuk dengan urusannya
masing-masing. Siapa yang melempar?
Batinmu.
Bel pulang sekolah
pun akhirnya berbunyi semua murid kelas ini berhamburan keluar kelas dengan
terburu-buru seperti seseorang yang sudah muak dengan ruangan ini. Berbeda
dengan kamu yang masih duduk di kursi menunggu semua murid keluar. Karena kau
tak suka bersempit-sempitan dengan mereka dan lebih memilih menunggunya. Kamu
kembali berfikir tentang tulisan dikertas tadi. Apa ia harus pergi kesana?
Bagaimana kalau itu hanya sebuah sampah yang tak sengaja terlempar ke meja-mu.
Kamu bangkit dari kursi dan pergi ke rooftop karena rasa penasaran yang
tiba-tiba saja muncul.
Saat kamu sampai,
tak ada seorang pun disana. Kamu mendengus “Bodohnya aku bisa percaya dengan
sampah kertas itu.” Ucapmu. Saat kau ingin berbalik seseorang memanggilmu yang
membuatmu menoleh ke asal suara. Matamu sedikit melebar saat melihat seseorang
yang memanggil itu tapi tak lama ekspresi-mu kembali datar seakan kau tak
tertarik dengan apapun.
“Tak ku sangka kau
akan benar-benar datang kesini.” Ucap namja itu. Kamu tak menggubris
perkataannya. Hingga ia mendekat kearahmu dengan sebuah senyuman yang tak bisa
kau artikan.
“Mari kita
berpacaran.” Matamu melotot kaget. Apa namja ini gila? Namja didepanmu ini
adalah Kim Taehyung, teman sekelasmu yang paling kau benci, karena namja itu
selalu mengganggu konsentrasi belajarmu karena ia selalu berisik dengan
teman-temannya di kelas. Kamu memang tak pernah berbicara ataupun berinteraksi
dengan namja ini. Tapi sekarang ia tiba-tiba datang dan mengajakmu berpacaran.
“Kau gila, eoh? Aku
bahkan tak mengenalmu”, ucapku dengan nada yang kubuat sebiasa mungkin.
“Tak mengenalku?
Yang benar saja aku tau kita sekelas. Kau bahkan duduk ditempat yang tak jauh
dari tempatku. Bagaimana mungkin kau tak mengenalku,” matanya menatapmu tajam
seakan ia akan menyergapmu.
“Aku tak punya
waktu dengan omong kosongmu,” kau pergi meninggalkannya tapi saat beberapa
langkah kau mendengarnya sedikit berteriak.
“Kau lihat besok
karena telah menolakku. Aku tak akan menyerah,” kau tak menghiraukannya dan
kembali melanjutkan jalanmu untuk pulang kerumah. Rumahmu dengan sekolah memang
tak begitu jauh, sehingga kau tak membutuhkan kendaraan apapun untuk sampai
dirumah. Kau hanya cukup berjalan kaki 15 menit untuk sampai rumah begitupun
sebaliknya.
Saat sampai
dirumah, kamu bisa melihat adikmu Mingyu yang sedang bermalas-malasan di sofa
ruang tv. Kau duduk disampingnya, dengan kembali memikirkan apa maksud taehyung
mengajaknya berpacaran. Selama ini kau tak pernah berpacaran. Jangankan
berpacaran ditembak pun kamu belum pernah merasakannya. Taehyung lah yang
pertama kali mengatakan itu padamu.
“Noona,” kamu
merasakan bahumu dicolek seseorang yang membuat tersadar dari lamunanmu. Kamu
menoleh pada mingyu dengan ekspresi yang mengatakan –apa?-
“Kau seperti orang
yang kehilangan ingatannya. Apa noona baru saja terbentur?” kamu menjitaknya
karena alasan yang tak masuk akalnya itu. Betapa bodohnya dongsaengmu ini.
“Aku sedang
berfikir bodoh.” Ia hanya terkekeh pelan.
“Gyu, apa
maksudnya seorang namja yang tak pernah berinteraksi denganku tiba-tiba
mengajakku berpacaran? Atau misalnya seorang yeoja yang tak pernah berinteraksi denganmu atau
kau benci tiba-tiba mengajakku berpacaran?”
“Ck, ternyata
noona ku yang selama ini selalu mendapat ranking pertama tapi bodoh dalam hal
ini. Ya jelas saja namja itu diam-diam menyukaimu dan memerhatikanmu. Aigoo
noona ini bagaimana.” Kamu berdecih karena dongsaeng-mu yang menyombongkan
dirinya. Tapi jika dipikir apa yang dikatakan mingyu itu masuk akal. Tapi yang
tak masuk akal adalah yang mengajaknya pacaran adalah seorang Kim Taehyung.
“Apa noona sudah
mengerti? Atau justru tidak mengerti sama sekali. Oh astaga (y/n) noona. Kau
bahkan hidup lebih lama daripada aku. Tapi masalah gini saja kau bingung.
Makanya cepat-cepatlah kau mencari pacar," kamu menatapnya tajam dan menjitaknya
membuat Mingyu terpekik kesakitan.
“Rasakan itu. Kau
sama sekali tak membantu.” Kamu beranjak dari dudukmu dan pergi kekamarmu untuk
berganti baju dan lain-lain.
###
Yoongi POV~
Aku mendribble bola
basket yang berada di tanganku beberapa kali lalu men shootnya kearah ring.
Masuk. Aku kembali melakukan beberapa kali. Aku dan yang lainnya sedang
berlatih basket untuk pertanding besok. Aku adalah ketua klub basket disini.
Aku memang memiliki hobi untuk bermain basket karena dengan ini aku bisa
melampiaskan kemarahanku atau apapun. Selain basket aku biasa menulis lagu
untuk menuangkan perasaanku.
“Hyung! Berikan
bolanya padaku,” aku melemparnya tapi sialnya bola yang ku lempar terlempar jauh
dan mengenai seorang yeoja yang membuatnya langsung terjatuh tergeletak.
“Sh*t!” Aku
mengumpat, lalu berlari kearah yeoja itu. Ia pingsan. Dengan segera aku
mengangkatnya dan membawanya ke UKS sekolah. Banyak murid sekolah yang
melihatiku. Tapi aku tak peduli dan tetap berlari menuju ke UKS.
“Hyesung, tolong
dia. Dia kepalanya terkena bola basket. Dan dia pingsan.” Ucapku seraya
membaringkan yeoja ini di kasur uks. Hyesung adalah murid dari ekskul kesehatan
di sekolah ini. Dia yang selalu menggantikan dokter UKS jika sedang tidak ada.
Aku melihati
Hyesung yang sedang mengobati yeoja itu. Setelah selesai tak lama yeoja itu
tersadar. Aku kembali menghampirinya.
“Kau tak apa?”
tanyaku sedikit khawatir bagaimana pun juga ia pingsan karenaku.
“Kenapa aku bisa
di UKS Siapa kau?” ucapnya mengintrogasi tapi dengan ekspresi yang sedang
menahan pusing luar biasa. Aku duduk di kursi samping ranjang UKS yang ia
tempati.
“Aku Min Yoongi
dari kelas 3-2. Mianhae, tadi bola basket yang ku lempar terlalu jauh dan
mengenai kepalamu itu dan membuatmu pingsan.” Ia menatapku sambil mendengar
penjelasan dariku. Sepertinya yeoja ini adalah hoobae-ku, aku tak pernah
melihatnya sebelumnya.
“Ku maafkan. Aku
ingin ke kelas. Gomawo telah mengantarku ke UKS,” ia beranjak berdiri tapi
mungkin kepalanya masih terasa pusing sehingga keseimbangannya belum
benar-benar kembali. Ia hampir saja terjatuh jika aku tak menahannya. Ia
melepaskan tanganku pada bahunya. Dan kembali berjalan meninggalkanku.
###
Your POV~
Kau membuka matamu
dan menyadari kamu sedang berada di UKS. Kamu merasa kepalamu sangat nyeri.
Kamu tak mengingat apa yang baru saja terjadi yang kamu ingat hanya saat kau
berjalan untuk kembali kekelas ada sebuah benda yang mendarat kencang di kepala
mu dan gelap. Dan kamu sekarang terbangun di ranjang uks dan melihat seorang
namja yang tak kau kenal melihatimu.
“Kenapa aku bisa
di UKS? Siapa kau?” ucapku mengintrogasi. Kepala mu benar-benar terasa pusing. Kamu melihat namja itu duduk di kursi disamping ranjang UKS yang kau tempati.
“Aku Min Yoongi
dari kelas 3-2. Mianhae, tadi bola basket yang ku lempar terlalu jauh dan
mengenai kepalamu itu dan membuatmu pingsan.” Ucapnya. Kau mengamatinya saat
namja itu menjelaskan kronologis yang terjadi sehingga bisa terbangun di ruang UKS ini.
“Ku maafkan. Aku
ingin ke kelas. Gomawo telah mengantarku ke UKS,” kamu mencoba berdiri tapi
kepalamu masih terasa sangat pusing sehingga keseimbanganmu belum benar-benar
kembali. Kamu hampir saja terjatuh jika saja namja itu tak menahannya. Entah
kenapa jantungmu terasa berdetak dua kali lebih cepat. Dengan segera kamu
melepaskan tangannya pada bahunya. Dan kembali berjalan menuju kelas.
Saat kamu sampai
di kelas disana sudah ada Jung-songsaenim pada mata pelajaran Matematika. Saat kamu
membuka pintu kelas semua mata tertuju kearahmu.
“Kenapa baru
datang? Dan kenapa mukamu pucat? Apa kau sakit?” tanya Jung songsaenim
bertubi-tubi.
“Maafkan saya saem,
tadi ada kecelakaan kecil. Jadi saya harus ke UKS terlebih dahulu.” Guru itu
mengerti dan menyuruhmu kembali duduk ke kursimu. Awalnya, ia menyuruhmu kembali
ke UKS karena wajahmu yang terlihat
begitu pucat. Tapi kamu menolaknya dan memilih ikut mata pelajarannya
ini.
Bel pulang pun
berbunyi, kamu merapihkan buku-mu kedalam tas. Seperti biasa kamu harus
menunggu kelas ini sepi barulah kamu pergi. Saat sudah cukup sepi kamu beranjak
dari dudukmu dan berjalan menuju pintu kelas, tetapi belum sempat keluar sebuah
tangan menahan tanganmu dan membuatmu menoleh dan melihat Taehyung yang
menahanmu.
“Ada apa?” tanyamu
seraya melepaskan tanganmu dari namja di depanmu ini.
“Kau akan ku antar
pulang.” Ucapnya ringan.
“Tak usah aku
biasa berjalan pulang sendiri.” Katamu menolak sambil kembali berjalan
meninggalkan Taehyung. Baru beberapa langkah, sebuah tangan menarikmu dan Taehyung-lah
yang melakukannya. Ia menarikmu hingga berhenti di depan sebuah mobil hitam
milik Taehyung. Ia membukakan pintu mobilnya untukmu kamu awalnya hanya diam tapi
namja itu menyuruhmu untuk masuk ke mobilnya. Namja itu menutup pintu mobil
disebelahmu dan masuk ke tempat kemudi.
“Aku memaksamu
untuk kuantar pulang.” Ucapnya seraya menyalakan mesin mobilnya lalu
menjalankan mobilnya keluar sekolah.
“Kau sebenarnya
tak usah mengantarku karena rumah ku tak jauh dari sini” ucapmu kepada Taehyung
yang sedang focus pada jalanan. Tak lama ia menanyakan alamat rumahmu. Diperjalanan
Taehyung sempat menanyakan beberapa pertanyaan yang membuat keadaan disini tak terlalu
sunyi. Kamu berfikir bahwa Taehyung namja yang cukup baik.
Setelah sampai di
depan rumahmu, kamu berterima kasih pada namja itu dan dibalas dengan senyuman
khas seorang Kim Taehyung. Dan namja ini sempat menyuruhmu untuk beristirahat
karena wajahmu terlihat semakin pucat. Kamu hanya mengiyakan lalu keluar dari
mobil namja itu dan masuk kedalam rumah setelah namja itu pergi.
###
Taehyung POV~
Ceklekk
Aku melihat kearah
pintu kelas yang baru saja dibuka oleh seseorang. Mataku sempat membulat saat
melihat gadis itu datang dengan wajah yang cukup pucat. Belum lagi ia telat di
pelajaran yang salah. Bisa-bisa gadis itu dihukum dengan wajah pucatnya itu.
Aku mendengarkan
penjelasannya saat di tanya oleh wanita killer itu. Jung saem kusebut sebagai
wanita killer karena ia tak segan-segan menghukum berat pada muridnya jika
melanggar peraturannya. Seperti berlari
di lapangan 20 putaran. Gila bukan? Aku pernah merasakannya sekali. Dan untung
saja gadis itu tak dihukum oleh wanita killer itu.
Saat pulang
sekolah aku berniat untuk mengantarkannya pulang. Aku tau dia pulang berjalan
kaki tapi aku tak tega melihatnya yang sedang pucat begitu harus pulang
berjalan kaki. Awalnya memang dia menolak ajakkanku tapi aku memaksanya
sehingga mau tak mau ia menuruti permintaanku.
Di mobil aku
menanyakan beberapa pertanyaan, bahkan aku menanyakan apa yang terjadi pada
dirinya. Dia memang sempat memasang ekspresi bingung karena
pertanyaan-perrtanyaan yang kulontarkan padanya. Tapi dia mencoba bersikap
seperti biasa. Saat sampai dirumahnya aku menyuruhnya untuk beristirahat karena
wajahnya semakin pucat. Dia benar-benar sakit. Aku melihatnya berterima kasih
dan juga tersenyum. Oh astaga senyumannya itu. Aku baru pertama kali
melihatnya. Sungguh cantik jika ia tersenyum.
Setelah gadis itu keluar dari mobilku tak lama aku langsung menyalakan
mesin mobilku dan meninggalkannya.
“Semoga aku bisa
melihat senyumannya untuk selanjutnya” gumamku seraya menyetir.
###
Your POV~
Kamu mengistirahatkan
badanmu di ranjangmu. Kamu merasakan betapa pusingnya kepalamu. Apa bola itu mengenai kepala ku sangat
keras? Kenapa bisa sepusing ini? Gumam-mu di dalam hati. Kamu mencoba untuk
memejamkan matamu tapi saat kamu ingin masuk kedunia mimpi, seseorang berhasil
mengusiknya dengan ketukan pintu kamarmu.
“Masuklah tidak ku
kunci.” Kamu mendudukkan badanmu dan melihat Mingyu dongsaengmu masuk lalu
duduk disampingmu. Ia sempat mengamatimu.
“Jangan melihati
seperti itu.”ucapmu.
“Kau pucat sekali, noona. Kau kenapa?” tanyanya to the point.
“Hanya terkena
bola basket. Kau mau apa kesini?” tanyaku padanya. Biasanya jika dia
menghampiri kamarku pasti dia ada maunya.
“(y/n) noona,
boleh tidak aku meminjam laptop mu. Aku ada tugas dan laptopku rusak” benarkan
pasti ia ada maunya. Kamu mengangguk. Lagi pula laptopmu sedang tak dibutuhkan.
Mingyu tersenyum lebar lalu mencium pipi kirimu.
“Gomawo, noona.” Mingyu
mengambil laptopmu yang berada di meja belajar lalu sebelum ia keluar dari
kamarmu ia menyuruhmu untuk beristirahat. Setelah mingyu keluar kamu kembali
membaringkan badanmu di ranjang dan melanjutkan menuju ke alam mimpi.
Keesokan harinya,
kamu terbangun dengan pakaian sekolah yang belum kau ganti dari kemarin. Benar-benar
kelelahan kemarin. Lalu kamu buru-buru ke kamar mandi untuk membersihkan dirimu
dan berangkat sekolah tentu dengan seragam yang berbeda.
Saat kamu baru
saja datang di meja makan, sudah ada Mingyu dan eomma-mu. Kamu duduk di kursi
seberang Mingyu yang sudah lengkap dengan seragamnya.
“(y/n), apa kau
sudah baikkan? Kemarin kata mingyu kamu terlihat pucat habis pulang sekolah.” Tanya
eomma kepada mu.
“Sudah eomma. Kemarin
hanya ada kecelakaan kecil disekolah. Tak perlu dikhawatirkan. Oiya, mingyu kemarin kau
jadi meminjam laptopku kan?”
“Iya, noona. Ini laptopmu
akan kubawa kesekolah untuk presentasi nanti.” Aku mengangguk dan memakan
sarapanku. Setelah selesai sarapan kamu berpamitan dengan eomma-mu lalu pergi
menuju sekolah. Kamu memang biasa berangkat 30 menit senelum bel masuk
berbunyi. Jadi kamu masih memiliki 15 menit untuk bersantai atau melakukan
apapun sebelum bel masuk.
Saat sampai di
gerbang sekolah kamu melihat namja yang kemarin berada di UKS. Ia melihatmu
lalu menghampirimu.
“Gwaenchanha?”
tanyanya
“Ne, sunbae. Aku baik-baik
saja tak usah kau pikirkan. Aku ke kelas duluan,” aku meninggalkannya tapi baru
beberapa langkah aku merasa tanganku ditahan seseorang. Aku kembali menoleh ke
arahnya. Aku menatapnya dengan ekspresi -ada-apa-
“Siapa namamu?” aku
sempat terdiam.
“(y/n). kau bisa
memanggilku hoobae saja,” jawabku.
“Baiklah” ia
melepaskan tangannya dariku. Aku menunduk memberi hormat lalu kembali
melanjutkan jalanku menuju kelas. Hampir saja aku sampai di kelas tapi
seseorang terlebih dahulu menyeretku ke gudang sekolah…
To Be Continued…

No comments:
Post a Comment